Sabtu, 09 Maret 2013



ZILZAAL


Naiknya Elektabilitas PKS…. Sessuatuuuuh Banget

Posted: 08 Mar 2013 09:40 PM PST

Usai kemenangan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) di Jawa Barat dan Sumatera Utara, peta kekuatan politik di Indonesia semakin bergerak dinamis. Dua Pilgub yang dimenangkan oleh koalisi parpol dengan kader PKS sebagai calonnya juga mendongkrak elektabilitas parpol tersebut.

Kemenangan pasangan Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar dan Gatot Pujo Nugroho Tengku Erry, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapat keuntungan lain. Kemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilgub Jabar dan Sumut  yang diusung PKS ikut mendongkrak elektabilitas partai yang baru saja diterjang "badai"
Banyak analisa pengamat berbalik pandangan yang awalnya meramalkan PKS akan terjungkal kini mau tidak mau mengubahnya. Beberapa pengamat sudah menyatakan bahwa kemenangan dua Pilgub tersebut menaikkan elektabilitas PKS.

Kenaikan elektabilitas PKS didukung oleh data yang dirilis oleh PoliticaWave. PoliticaWave menganalisa percakapan di sosial media tentang topik politik di Indonesia. Pada saat pilkada Jabar berlangsung, pasangan Aher-Demiz menduduki peringkat atas dalam Candidate Electability. Menurut data Tanggal 24 Februari 2014 PoliticaWave menempatkan pasangan Aher-Demiz pada posisi Candidate Electability terbesar yaitu dengan Sentiment Index sebesar 8.08 (Baca disini http://news.liputan6.com/read/520702/politicawave-aher-deddy-kuasai-jejaring-sosial. )
Candidate Electability masing-masing Pasangan pada Pilgub Jabar
Saat Pilgub Sumut berlangsung, PoliticaWave tidak merilis data update elektabilitas pasangan kandidat yang berkompetisi. PoliticaWave memantau berbagai kanal media sosial, termasuk Twitter, Facebook, Forum, Blog, Youtube dan situs-situs berita nasional dan lokal. Ada jutaan percakapan yang masuk dan dianalisa oleh PoliticaWave untuk dijadikan informasi yang mudah dipahami masyarakat. PoliticaWave tetap meng-update data lain berupa analisa sosial media terkait partai politik pada hari pencoblosan Pilgub Sumut.

Hasilnya, pada hari Kamis (7/3/2013) pukul 12:00, angka Sentiment Index  Partai poltik terbesar diraih PKS sebesar 9.25. Angka ini terus naik hingga menjadi 17.75 pada malam hari. Dan esok harinya, tanggal 8/3/2013, PKS tetap kokoh dalam posisi tertinggi dalam Candidate Electability dengan nilai Sentiment Index positif terbesar yaitu 22.72.  Hingga hari ini, posisi  Candidate Electability tertinggi ditempati oleh PKS dengan Sentiment Index berkisar pada angka 22.  Sentiment Index adalah suatu indeks yang mengukur margin perbandingan antara sentimen tiap kandidat dibandingkan dengan keseluruhan kandidat. Sentimen indeks bertujuan mengetahui persepsi langsung konsumen atau konstituen kepada setiap kandidat.
Trend of Awareness PKS tertinggi pada saat Pilgub Sumut (7/3/13) (kiri) dan Candidate Electability PKS tertinggi hingga hari ini (9/3/13)
Analis media sosial yang juga Direktur PoliticaWave, Yose Rizal, dan pakar komunikasi politik Effendi Gazali, di Jakarta, Senin (25/2/2013), sama-sama sependapat bahwa pertarungan di Pilgub Jabar terpengaruh juga dengan percakapan di media sosial.. Effendi Gazali mengungkapkan bahwa kebiasaan di Indonesia adalah membawa apa yang terjadi di media sosial ke media offline. Karena itu, jika di media sosial ada sentimen negatif, maka sentimen negatif itu bisa ditularkan di dunia nyata. (baca disini http://regional.kompas.com/read/2013/02/25/21283990/Pelajaran.dari.Perang).

Pada kasus Pilgub Sumut juga tidak berbeda dengan kondisi yang digambarkan oleh kedua pakar tersebut. Tiga hari menjelang Pilgub Sumut pendukung pasangan Ganteng aktif melontarkan amunisi lewat media sosial. Dari pengamatan saya, pendukung Ganteng sukses menempatkan hashtag bernada kampanye buat pasangan Ganteng di Trending Topic Twitter (TT) di skala dunia maupun Indonesia. Dua hashtag yang sempat nangkring adalah #SiGantengdiMetoTV sukses bercokol di TT menjelang Debat Kandidat terakhir di Metro TV (3/3/2013). Sehari sebelum pencoblosan kembali pasukan media sosial pendukung Ganteng melekatkan hashtag #GantengSatuPutaran di TT bahkan hampir 24 jam. Luar Biasa militansi pasukan media sosial yang sebagian besar dilakukan oleh Kader PKS ini.

Tak hanya berupa TL di Twitter, pendukung PKS terus "mengebom" media sosial lewat tulisan di berbagai blog sosial, forum diskusi, situs partai dan situs dakwah. Hasilnya, Masya Allah. Menurut teman saya yang bukan kader PKS….PKS Sessuaatuuuh…Alhamdulillah.

Posisi elektabilitas yang tinggi bagi PKS selain sebagai berkah, juga menjadi tantangan tersendiri untuk mempertahankan tren positif dalam penerimaan di mata masyarakat. Musibah yang sempat menghantam PKS, bisa dijadikan momentum bagi PKS hingga berbuah berkah. Pada saat yang sama PKS diberi mandate yang berat oleh masyarakat untuk menjalankan dan mewujudkan janji-janjinya. Allah sudah member "hadiah" kemenangan pada PKS. Masyarakat juga menitipkan amanah pada PKS. Selanjutnya, marilah kita dukung PKS untuk bisa menjadi partai yang memberikan pendidikan politik terbaik dan pencetak pemimpin bangsa yang berkualitas. [pkspiyungan]

Salam

Abu Haniyya – Penggiat Sosial Media

PKS Harus Terima Kasih Sama Burhanudin Muhtadi

Posted: 08 Mar 2013 02:19 PM PST

Sejak kasus 'konspirasi' terhadap presiden PKS muncul, salah seorang pengamat yang sangat sering berkomentar dimedia (terutama media online yang saya amati) adalah Burhanudin Muhtadi. Saya ngak kenal dengan orangnya, tapi dia dikenal sebagai pengamat politik yang memiliki daya analisis dan pemikiran yang tajam.

Saya ingin mengutip beberapa rekaman komentar dan pendapat Burhanudin Muhtadi yang dirilis media online. Berikut pernyataan Burhanudin Muhtadi yang di tulis di JPNN.com.
"Ini betul-betul meruntuhkan PKS. Ini menusuk jantung PKS, tsunami di PKS karena presidennya yang dijadikan tersangka," tutur Burhanuddin saat dihubungi JPNN, Rabu malam (30/1).

Menurut Pengamat Politik Burhanuddin Muhtadi penetapan ini seolah menjadi tsunami besar untuk salah satu partai Islam besar di Indonesia tersebut. Pasalnya, yang ditetapkan adalah seorang ketua umum yang masih aktif di parpol. Hal senada juga ditulis Inilah.com

Burhanudin Muhtadi juga pernah menyatakan bahwa kasus LHI akan berpengaruh besar pada pilkada di Jawa Barat dan Sumatera Utara.

"Berakibat pada pilkada di Jawa Barat dan Sumatra Utara. Karena Banyak kader PKS yang maju. Di mana PKS mengklaim dan dikalim partai yang bersih. Kejadian ini tentunya menusuk jantung PKS," kata Burhanudin seperti ditulis Metrotvnews.com.

Analisa yang lebih tajam disampaikan Burhanudin Muhtadi seperti yang ditulis situs berita Viva, Elektabilitas PKS akan hancur lebur "Sisi pertama, citra PKS di mata pemilih hancur lebur," kata Burhan saat diwawancara VIVAnews melalui telepon, Kamis 31 Januari 2013.

Terpilihnya Anis Matta sebagai Pemimpin baru PKS pun tidak lepas dari analisa Burhanudin Muhtadi, bahwa Anis Matta tidak bisa bangkitkan PKS, seperti ditulis Klatennews.com. "Anis Matta terpilih jadi presiden. Dari sisi pendekatan politik, tidak ada perubahan signifikan Anis Matta sebagai presiden baru," Pungkas Burhanudin.

Berikutnya terkait bagaimana cara perbaiki citra PKS, Burhanudin Muhtadi menyarankan agar PKS belajar dari Partai Demokrat seperti yang ditulis LoveIndonesia.com. "Burhanudin pun mengaku sangat pesimis terkait PKS akan memperbaiki citranya. Hal itu akan terwujud. Terlebih, menurutnya, Partai Demokrat lebih hebat ketimbang PKS dalam urusan komunikasi publik. Itu, sambung dia, menjadi titik kelemahan partai berlambang bulan sabit itu dalam mencapai tujuan mereka".

Saya kira saya tidak perlu mengomentari analisa-analisa tajam Burhanudin Muhtadi diatas, selain karena kapasitasnya yang sudah terkenal tentu tidak sebanding dengan saya. Saya kira biarlah publik yang membaca bisa menilai dan memberikan komentar terhadap hasil analisa-analisa cerdas seorang Burhanudin Muhtadi.

Namun satu hal yang ingin saya sarankan bahwa PKS harus berterima kasih kepada Burhanudin Muhtadi, karena analisa-analisa cerdasnya itulah kader-kader PKS bekerja, semakin semangat bekerja dan terus menerus bekerja tanpa kenal lelah ingin membuktikan bahwa silahkan siapa saja berkomentar apa saja dimana saja, tetapi lihat saja realitas dan bukti nyata kerja-kerja dan hasil yang diperoleh. Kader PKS tidak peru membalas komentar-komentar dan analisa-analisa pengamat dengan komentar juga, tetapi membalasnya dengan kerja nyata. Setidaknya hasil pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara adalah bagian dari jawabannya. Kader PKS tidak perlu melakukan klarifikasi atas pernyataan itu, tetapi biarlah masyarakat yang menilai.

Terima kasih Burhanudin Muhtadi.


Oleh : Iqbal Anas/Kompasiana

PKS Menang, Pemilik Media Besar Malu Hingga Membungkam Informasi

Posted: 08 Mar 2013 02:03 PM PST


Beginilah jadinya ketika PKS (Partai Keadilan Sejahtera) memenangkan pertempuran dalam pertarungan politiknya di beberapa pilkada (Jabar-Sumut, red). Terasa sangat jelas ketidakproporsionalan beberapa media, bahkan sekelas media besar.

Sepertinya memang ada agenda para pemilik media besar untuk membungkam informasi kemenangan PKS. Dibeberapa media bahkan tidak ada sama sekali tema mengenai Pilkada Sumut, bisa dilihat di Jawa Post pada hari Jum'at tanggal 8 Maret 2013. Kita tidak menemukan berita didalamnya yang memberitakan kemenangan PKS di Sumut. Padahal pilkada Sumut dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2013 (kemarin).
Ada indikasi para media mencoba untuk memboikot berbagai informasi mengenai kemenangan PKS.

Dibeberapa TV yang memfokuskan diri untuk menyiarkan berita dan pemilu pun kita hampir tidak benar-benar melihat ulasan yang jelas mengenai kemenangan PKs di Sumut.

Media dipencundangi PKS, hingga PKS diboikot oleh berbagai media karena mereka (mungkin) malu memberitakan kemenangan PKS lantaran mereka sering memberitakan mengenai "detik-detik runtuhnya PKS", yang malah PKS tidak runtuh hingga semakin membesar dan memenangkan Pilkada di Jabar dan Sumut.

Dua kader inti PKS ditempatkan untuk menduduki posisi Gubernur, di Jabar dan Sumut. Hingga keduanya telah memenangkan pertarungan politik pada daerah masing-masing.

Sebelumnya mereka ramai-ramai memprediksi kehancuran PKS, media ramai mengundang para pengamat politik supaya didengar "wejangan dukun" politiknya, yang menggembar-gemborkan PKS akan hancur dan kalah, diawali dengan kekalahan di Pilgub Jabar.

Ternyata, para "dukun politik" itu masih belum mampu menerawang jauh mengenai PKS, mereka ternyata benar-benar masih belum mengenal PKS secara keseluruhan. Bahkan tak jarang para pengamat politik itu ternyata mengambil informasi melalui dukun terhandal didunia, Google.

Para pengamat politik mencari-cari celah untuk bisa menganalisa mengenai PKS, menganalisa kasus daging sapi, menganalisa ustad LHI, menganalisa Ahmad Fathanah. Semua dianalisa, hingga
akhirnya dihasilkan analisa bahwa berbagai kasus yang mendera PKS akan menjadi awal kehancuran PKS.

Media senang, ramai, bahkan tak jarang media rame-rame menyebut "Partai Korupsi Sapi", hingga pembawa acara berita (Metro TV) pun menyebut orang yang dihormati di PKS, Ustad LHI dengan sebutan Sapi.

PKS di bully media dengan berbagai kasus-kasus yang dideranya. Dikait-kaitkan dengan berbagai kasus hingga tak jarang difitnah oleh media.

Hingga akhirnya Allah Azzawajallah mendengar doa-doa kader PKS, mendengar permintaan tobat berjamaah. Dan mendengarkan doa-doa seluruh kader PKS yang merasa teraniayah oleh bullying era baru, yaitu media bul-bul.

Kita tidak akan menemukan berita PKS yang seintensif akan membahas kemenangan PKS oleh berbagai media. Karena media sudah tidak ingin lagi kecolongan, atas ulah petinggi PKS yang malah menjadi penyulut kobaran api besar.

Ibarat kampanye dan acara motivasi gratis, para media kaget dengan pemberitaan mereka terhadap PKS malah menyulut semangat para kader PKS dipelosok daerah. Media secara otomatis memberitakan kobaran api semangat yang terus membesar dari para kader-kader PKS.

Para media benar-benar kecolongan, media tidak ingin hal itu terjadi lagi. Dan beberapa media malu, malu, semalu-malunya karena ramalan para jago dukun politiknya SALAH TELAK!!! Hingga mereka meredam dan membungkam kemenangan demi kemenangan yang didapatkan oleh PKS karena tentunya hal ini bisa membuat semakin semangatnya kader PKS untuk terus berjuang memenangkan PKS.

Ibarat kemenangan perang, propaganda media yang mengabarkan kemenangan para tentara, bisa semakin menambah semangat juang dan tekat yang terus membara.

Walaupun begitu, meskipun media telah melakukan boikot berita terhadap PKS. Kader-kader PKS akan terus bekerja, mesin politik PKS akan terus bergerak, bahkan dengan semangat yang terus bergejolak tinggi untuk terus mendukung dan memenangkan PKS.

Ingatlah para kader PKS, Allah Azzawajallah telah berfirman: "yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS Al Fath 29)

Oleh: Abu Jaisy
http://www.suaranews.com/2013/03/pks-menang-pemilik-media-besar-malu.html



Rating: 4.5 - Oleh: Unknown

Judul: ZILZAAL
Deskripsi: ZILZAAL Naiknya Elektabilitas PKS…. Sessuatuuuuh Banget ...
URL: http://downloadgratis19.blogspot.com/2013/03/zilzaal_9.html

0 komentar:

Poskan Komentar

 
 

Copyright © 2013 | Template Design by DIEKY'S BLOG - Powered by Blogger.