Bagaimana mengajarkan konsep bahwa milik bersama (public property) harus kita jaga bersama-sama ya? Banyak orang yang tidak peduli selain barang miliknya. Mereka pikir bahwa public property itu bisa ngurus diri sendiri. hi hi hi.

Mengapa pula saya yang repot sementara nanti orang lain yang menikmati hasilnya? Padahal kita tidak sadar ada banyak hal yang kita terima saat ini sebagai hasil dari repotnya orang-orang terdahulu. Kemerdekaan kita saja merupakan hasil pengorbanan banyak orang - yang sekarang tidak ikut menikmati hasilnya. Mungkin kalau menggunakan contoh ini agak kejauhan dan kurang dapat dirasakan secara langsung ya? Pepohonan rindang yang usianya puluhan tahun (dan bahkan ada yang lebih dari 100 tahun) ini juga merupakan hasil repotnya orang-orang terdahulu. Contohnya sudah banyak. Hanya maukah kita melakukan ini untuk orang lain (dan di kemudian hari)?

Di sebuah restoran saya melihat keran cuci tangan dibiarkan menyala oleh seorang pembeli. Dia tidak peduli karena ini bukan rumahnya dan dia tidak membayar setoran air / listrik-nya. Coba kalau dia yang punya rumah. Mungkin dia peduli. Eh, mungkin juga tidak ya? Sang pembeli ini membiarkan saja air mengalir. Padahal air bersih ini sayang kalau dibiarkan mengalir. Dihemat-hemat. Ini bukan sekedar menguntungkan sang pemilik restoran, tetapi menguntungkan kita juga sebagai penduduk dunia. Tapi bagi orang yang berpikiran negatif, maka dia lebih suka sang pemilik restoran menderita (meskipun dia juga di kemudian hari ikut menderita).

Demikian pula ketika kita berada di ruang perkantoran, laboratorium, kelas, apartemen, tempat kos, atau fasilitas lain yang ada tempat bersamanya (public). Saya lihat banyak orang yang tidak mau peduli; menjaga kebersihan, menghemat air dan listrik, dan sejenisnya. Ada yang tidak mau menyapu ruang yang digunakan bersama. Dibiarkannya barang-barang tergeletak, menyemak, menyampah, berdebu, dan kotor. Apa ruangan ini dapat bersih dengan sendirinya?

Ada lagi masalah dengan alat-alat makan. Ada yang membiarkan gelas, piring, and alat-alat makan lainnya tetap kotor. Ini tidak saja bikin mata sepet tapi juga mengundang penyakit. Masih mending ada yang mau mencuci alat-alat makan, meskipun hanya miliknya sendiri. Sebenarnya tidak masalah kalau gelas kawannya juga dia cucikan, tetapi sering ada perasaan nanti kita diabuse - dibiarkan mencuci terus sementara kawan kita makin tidak peduli. Biarlah. Kalau memang dia karakternya negatif, biarlah. Sekedar mencucikan gelasnya tidak masalah. Toh kita tidak harus membayar hutangnya dia. he he he.

Harus ada yang mau mengambil inisiatif untuk membersihkan. Apakah membersihkan ini pekerjaan yang hina? Mengapa kok tidak banyak yang mau berinisiatif ya?

Suatu saat di lab kami, alm. Prof Samaun bersih-bersih. Tentu saja banyak yang kelimpungan merasa serba salah. Mosok guru kita menyapu dan kita diam-diam saja? Ada banyak contoh seperti itu. Jangan malu untuk merawat milik bersama. Perlu diingat juga bahwa orang akan lebih suka berada satu grup dengan kita karena kita termasuk orang yang memiliki sifat mau menjaga milik bersama.

Nah, bagaimana mengajak yang lain agar mau juga merawat tempat bersama kita semua?