Topik sistem operasi (OS - operating system) buatan sendiri kembali ramai. Diberitakan Cina menggandeng Ubuntu untuk membuat sistem operasi sendiri. (Catatan: tahun 2000, kalau tidak salah, saya sempat pergi ke Cina dan melihat mereka mengembangkan OS sendiri berbasis Linux. Namanya Red Flag Linux kalau tidak lupa.)

Pertanyaannya adalah:

  1. Apakah membuat sistem operasi sendiri masih relevan?
  2. Apakah yang dimaksud dengan "sistem operasi sendiri"?
  3. Apakah kita memiliki kemampuan dan komitmen untuk melakukan hal itu?

Pertanyaan pertama adalah apakah kita perlu membuat sistem operasi sendiri? Mengapa kita perlu membuat *SENDIRI*? Kalau kita lihat, pasar justru lebih condong ke arah aplikasi. Sebagai contoh, sistem oeprasi Android sudah merajalela di platform handphone dan tablet. Nampaknya akan banyak dibutuhkan aplikasi di atasnya. Mungkin lebih menarik kalau kita mengembangkan banyak aplikasi di atas itu.

Mengembangkan sistem operasi sendiri masuk akal jika kita membutuhkan sistem operasi yang spesifik untuk kebutuhan tertentu, misalnya untuk kebutuhan keamanan. Itupun sebetulnya masih dapat menggunakan sistem operasi yang ada. Lantas apa alasan mengembangkan sistem operasi sendiri? Mengapa kita tidak bergabung dengan pengembang sistem operasi yang sudah ada saja dan berkontribusi di tingkat dunia?

Terkait dengan hal di atas adalah apa yang dimaksud dengan sistem operasi sendiri? Ada kalanya yang dimaksud dengan sistem operasi sendiri adalah sebuah customization terhadap sistem operasi yang sudah ada. Yang diganti adalah bahasanya atau tampilannya, misalnya. Apakah yang dimaksud adalah ini? Jika iya, mengapa tidak bergabung dengan sistem operasi yang sudah ada, Debian Linux misalnya, dan kemudian ikut mengembangkan berbagai proyek terjemahan (translation) saja?

Apakah sumber daya untuk mengembangkan sistem operasi sendiri itu ada? Kalau kita berbicara tentang sumber daya manusia (SDM) dalam tingkat individual, saya yakin jawabannya adalah ada. Kalau kita berbicara tentang skala (kapasitas, dalam tingkat komunitas) dan juga konsistensi, saya tidak yakin. Ada berapa orang Indonesia yang berkontribusi kepada pengembangan core sistem operasi Linux, misalnya? (Berapa orang yang menguasai ilmu sistem operasi ini? Saya lihat di kampus tidak banyak yang mengajarkan hal ini dan kalaupun ada mahasiswanya juga sedikit serta hanya cari nilai. hi hi hi.)

Untuk mencoba menjawab pertanyaan ternyata malah menghasilkan lebih banyak pertanyaan ya. Jawaban yang saya berikan juga cenderung mengarah kapada tidak usah buat sistem operasi sendiri.

Bagaimana menurut Anda?